Pemberontakan PRRI dibarat dan Permesta ditimur menumbuhkan berbagai macam alasan. Utamanya bahwa kelompok etnis tertentu di Sulawesi dan Sumatera tengah waktu itu merasa bahwa kebijakan pemerintah dari Jakarta Stagnan pada pemenuhan ekonomi lokal mereka saja, dimana dalam giliranya membatasi setiap kesempatan bagi pengembangan daerah regional lainya.
Juga ada rasa kebencian terhadap kelompok suku jawa yang merupakan suku dengan jumlah terbanyak dan berpengaruh dalam negara kesatuan Indonesia yang baru saja terbentuk.
Efeknya konflik ini sedikit menyoalpikiran tentang pemisahan diri dari negara Indonesia tetapi lebih menitik beratkan tentang pembagian kekuatan poltik dan ekonomi yang lebih adil di Indonesia.
2. Tokoh Yang Berperan
- Letnan Kolonel Ahmad Husein
- Mr.Syafruddin Prawira Negara
- Mr.Assaat Dt.Mudo
- Maluddin Simbolon
- Prof. dr. Soemitro Djojo Hadikoesoemo
- Moh.Syapei
- J.F.Warrow
- Saladin Sarumpaet
- Muchtar Lintang
- Saleh Lahade
- Ayah Gani Usman
- Dahlan Jambek
- Letkol Ventje Sumual
- Kapten Wimnajoan
- Mayor Eddi Gagola
- Mayor Doll Runturambi
- Kolonel Dj.Somba
- Kolonel Alexanders Evort Kawilarang
3. Hasil Dari Pemberontakan
- Pembangunan fisik yang selama ini dibangun menjadi hancur;
- Perubahan kebijakan oleh pemerintah kita terhadap daerah;
- Menimbulkan kesadaran dikalangan pimpinan negara bahwa wilayah NKRI terdiri dari kepulauan yang luas dan beraneka ragam masalah disetiap daerah;
- Jatuhnya kabinet Ali II pada tanggal 14 Maret 1957 yang ditandai dengan penyerahan mandat dari perdana menteri Ali Sastro Amidjojo kepada presiden;
- Dengan berhasil ditumpasnya Permesta maka PKI justru berkembang sebagai kekuatan yang semakin kuat ditubuh TNI AD dan semakin berpengaruh terhadap soekarno dalam kaitanya dengan perpolitikan Indonesia yaitu diakuinya Nasakom (Nasionalisme,Sosialisme dan Agama).